I Love Tanah Slaka_mewujudkan Desa Pengastulan yang Damai,Aman dan Sejahtera

Senin, 21 November 2011

Masalah Pendidikan di Indonesia



Peran Pendidikan dalam Pembangunan


Pendidikan mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia unuk pembangunan. Derap langkah pembangunan selalu diupayakan seirama dengan tuntutan zaman. Perkembangan zaman selalu memunculkan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Bab ini akan mengkaji mengenai permasalahan pokok pendidikan, dan saling keterkaitan antara pokok tersbut, faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangannya dan masalah-masalah aktual beserta cara penanggulangannya.

Apa jadinya bila pembangunan di Indonesia tidak dibarengi dengan pembangunan di bidang pendidikan?. Walaupun pembangunan fisiknya baik, tetapi apa gunanya bila moral bangsa terpuruk. Jika hal tersebut terjadi, bidang ekonomi akan bermasalah, karena tiap orang akan korupsi. Sehingga lambat laun akan datang hari dimana negara dan bangsa ini hancur. Oleh karena itu, untuk pencegahannya, pendidikan harus dijadikan salah satu prioritas dalam pembangunan negeri ini.

Pemerintah dan Solusi Permasalahan Pendidikan


Mengenai masalah pedidikan, perhatian pemerintah kita masih terasa sangat minim. Gambaran ini tercermin dari beragamnya masalah pendidikan yang makin rumit. Kualitas siswa masih rendah, pengajar kurang profesional, biaya pendidikan yang mahal, bahkan aturan UU Pendidikan kacau. Dampak dari pendidikan yang buruk itu, negeri kita kedepannya makin terpuruk. Keterpurukan ini dapat juga akibat dari kecilnya rata-rata alokasi anggaran pendidikan baik di tingkat nasional, propinsi, maupun kota dan kabupaten.

Penyelesaian masalah pendidikan tidak semestinya dilakukan secara terpisah-pisah, tetapi harus ditempuh langkah atau tindakan yang sifatnya menyeluruh. Artinya, kita tidak hanya memperhatikan kepada kenaikkan anggaran saja. Sebab percuma saja, jika kualitas Sumber Daya Manusia dan mutu pendidikan di Indonesia masih rendah. Masalah penyelenggaraan Wajib Belajar Sembilan tahun sejatinya masih menjadi PR besar bagi kita. Kenyataan yang dapat kita lihat bahwa banyak di daerah-daerah pinggiran yang tidak memiliki sarana pendidikan yang memadai. Dengan terbengkalainya program wajib belajar sembilan tahun mengakibatkan anak-anak Indonesia masih banyak yang putus sekolah sebelum mereka menyelesaikan wajib belajar sembilan tahun. Dengan kondisi tersebut, bila tidak ada perubahan kebijakan yang signifikan, sulit bagi bangsa ini keluar dari masalah-masalah pendidikan yang ada, apalagi bertahan pada kompetisi di era global.

Kondisi ideal dalam bidang pendidikan di Indonesia adalah tiap anak bisa sekolah minimal hingga tingkat SMA tanpa membedakan status karena itulah hak mereka. Namun hal tersebut sangat sulit untuk direalisasikan pada saat ini. Oleh karena itu, setidaknya setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam dunia pendidikan. Jika mencermati permasalahan di atas, terjadi sebuah ketidakadilan antara si kaya dan si miskin. Seolah sekolah hanya milik orang kaya saja sehingga orang yang kekurangan merasa minder untuk bersekolah dan bergaul dengan mereka. Ditambah lagi publikasi dari sekolah mengenai beasiswa sangatlah minim.

Sekolah-sekolah gratis di Indonesia seharusnya memiliki fasilitas yang memadai, staf pengajar yang berkompetensi, kurikulum yang tepat, dan memiliki sistem administrasi dan birokrasi yang baik dan tidak berbelit-belit. Akan tetapi, pada kenyataannya, sekolah-sekolah gratis adalah sekolah yang terdapat di daerah terpencil yang kumuh dan segala sesuatunya tidak dapat menunjang bangku persekolahan sehingga timbul pertanyaan ,”Benarkah sekolah tersebut gratis? Kalaupun iya, ya wajar karena sangat memprihatinkan.”

Penyelenggaraan Pendidikan yang Berkualitas


”Pendidikan bermutu itu mahal”. Kalimat ini sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan dari Taman Kanak-Kanak (TK) hingga Perguruan Tinggi (PT) membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah. Orang miskin tidak boleh sekolah.Untuk masuk TK dan SDN saja saat ini dibutuhkan biaya Rp 500.000, — sampai Rp 1.000.000. Bahkan ada yang memungut di atas Rp 1 juta. Masuk SLTP/SLTA bisa mencapai Rp 1 juta sampai Rp 5 juta.

Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha. Asumsinya, pengusaha memiliki akses atas modal yang lebih luas. Hasilnya, setelah Komite Sekolah terbentuk, segala pungutan uang kadang berkedok, “sesuai keputusan Komite Sekolah”.

Namun, pada tingkat implementasinya, ia tidak transparan, karena yang dipilih menjadi pengurus dan anggota Komite Sekolah adalah orang-orang dekat dengan Kepala Sekolah. Akibatnya, Komite Sekolah hanya menjadi legitimator kebijakan Kepala Sekolah, dan MBS pun hanya menjadi legitimasi dari pelepasan tanggung jawab negara terhadap permasalahan pendidikan rakyatnya.
Kondisi ini akan lebih buruk dengan adanya RUU tentang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP). Berubahnya status pendidikan dari milik publik ke bentuk Badan Hukum jelas memiliki konsekuensi ekonomis dan politis amat besar. Dengan perubahan status itu pemerintah secara mudah dapat melemparkan tanggung jawabnya atas pendidikan warganya kepada pemilik badan hukum yang sosoknya tidak jelas. Perguruan Tinggi Negeri pun berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN). Munculnya BHMN dan MBS adalah beberapa contoh kebijakan pendidikan yang kontroversial. BHMN sendiri berdampak pada melambungnya biaya pendidikan di beberapa Perguruan Tinggi favorit.

Privatisasi dan Swastanisasi Sektor Pendidikan


Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pelayanan publik tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35-40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong privatisasi pendidikan. Akibatnya, sektor yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5/2005).

Dalam APBN 2005 hanya 5,82% yang dialokasikan untuk pendidikan. Bandingkan dengan dana untuk membayar hutang yang menguras 25% belanja dalam APBN (www.kau.or.id). Rencana Pemerintah memprivatisasi pendidikan dilegitimasi melalui sejumlah peraturan, seperti Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, RUU Badan Hukum Pendidikan, Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pendidikan Dasar dan Menengah, dan RPP tentang Wajib Belajar. Penguatan pada privatisasi pendidikan itu, misalnya, terlihat dalam Pasal 53 (1) UU No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas). Dalam pasal itu disebutkan, penyelenggara dan/atau satuan pendidikan formal yang didirikan oleh Pemerintah atau masyarakat berbentuk badan hukum pendidikan.

Seperti halnya perusahaan, sekolah dibebaskan mencari modal untuk diinvestasikan dalam operasional pendidikan. Koordinator LSM Education Network for Justice (ENJ), Yanti Mukhtar (Republika, 10/5/2005) menilai bahwa dengan privatisasi pendidikan berarti Pemerintah telah melegitimasi komersialisasi pendidikan dengan menyerahkan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan ke pasar. Dengan begitu, nantinya sekolah memiliki otonomi untuk menentukan sendiri biaya penyelenggaraan pendidikan. Sekolah tentu saja akan mematok biaya setinggi-tingginya untuk meningkatkan dan mempertahankan mutu. Akibatnya, akses rakyat yang kurang mampu untuk menikmati pendidikan berkualitas akan terbatasi dan masyarakat semakin terkotak-kotak berdasarkan status sosial, antara yang kaya dan miskin.

Hal senada dituturkan pengamat ekonomi Revrisond Bawsir. Menurut dia, privatisasi pendidikan merupakan agenda kapitalisme global yang telah dirancang sejak lama oleh negara-negara donor lewat Bank Dunia. Melalui Rancangan Undang-Undang Badan Hukum Pendidikan (RUU BHP), pemerintah berencana memprivatisasi pendidikan. Semua satuan pendidikan kelak akan menjadi badan hukum pendidikan (BHP) yang wajib mencari sumber dananya sendiri. Hal ini berlaku untuk seluruh sekolah negeri, dari SD hingga perguruan tinggi.

Bagi masyarakat tertentu, beberapa PTN yang sekarang berubah status menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) itu menjadi momok. Jika alasannya bahwa pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya berlaku di Indonesia. Di Jerman, Perancis, Belanda, dan di beberapa negara berkembang lainnya, banyak perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah. Bahkan beberapa negara ada yang menggratiskan biaya pendidikan.

Pendidikan berkualitas memang tidak mungkin murah, atau tepatnya, tidak harus murah atau gratis. Tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Pemerintahlah sebenarnya yang berkewajiban untuk menjamin setiap warganya memperoleh pendidikan dan menjamin akses masyarakat bawah untuk mendapatkan pendidikan bermutu. Akan tetapi, kenyataannya Pemerintah justru ingin berkilah dari tanggung jawab. Padahal keterbatasan dana tidak dapat dijadikan alasan bagi Pemerintah untuk cuci tangan.***


Minggu, 13 November 2011

Sejarah Kota Singaraja

Tersebutlah Istana Gelgel pada sekitar tahun 1568 dalam suasana tenang, dimana Raja Sri Aji Dalem Sigening menitahkan putranda Ki Barak Sakti, supaya kembali ketempat tumpah darah Bundanya di Den Bukit (Bali Utara). Ki Barak Panji bersama Bunda Sri Luh Pasek, setelah memohon diri kehadapan Sri Aji Dalem lalu berangkat menuju Den Bukit diantar oleh empat puluh orang pengiring Baginda yang dipelopori oleh Ki Kadosot.
Perjalanan mereka memasuki hutan lebat sangat mengerikan, udara yang sangat dingin menggigilkan, menembus celah-celah bukit, mendaki Gunung-gunung meninggi, menuruni jurang-jurang curam, dan akhirnya mereka tiba pada suatu tempat yang agak mendatar. Pada tempat itulah mereka melepaskan lelah seraya membuka bungkusan bekal mereka. Sekali mereka makan ketupat, mereka sembahyang, kemudian mereka diperciki air/tirta oleh Sri Luh Pasek, demi keselamatan perjalanannya, belakangan tempat itu diberi nama “YEH KETIPAT”. Rombongan Ki Barak Panji telah tiba di Desa Gendis/Panji dengan selamat.
Tersebutlah Ki Pungakan Gendis, pemimpin desa yang sekali-kali tiada menghiraukan keluh kesah para penduduknya. Ia memerintah hanya semata-mata untuk memenuhi nafsu buruknya, kesenangannya hanyalah bermain judi, terutama sabungan ayam. Oleh karena demikian sikap pemimpin Desa Gendis itu, maka makin lama makin dibenci rakyatnya, dan pada saat terjadi peperangan, ia dibunuh oleh Ki Barak Panji.
Desa Gendis di perintah oleh Ki Barak Panji, seorang pemimpin yang gagah berani, adil dan bijaksana. Ki Barak Panji mendengar adanya kapal layer Tionghoa terdampar, kemudian timbullah rasa belas kasihan untuk menolong pemilik kapal tersebut. Baginda bersama-sama dengan Ki Dumpyung dan Ki Kadosot dapat membantu menyelamatkan kapal layer yang terdampar itu di pantai segara penimbangan. Setelah bantuannya berhasil, baginda mendapat hadiah seluruh isi kapal tersebut berupa barang-barang tembikar seperti piring, mangkok, dan uang kepeng yang jumlahnya sangat besar.
Kepemimpinan Ki Barak Panji makin lama makin terkenal, beliau selalu memperhatikan keadaan rakyatnya, mengadakan pembangunan di segala bidang baik fisik maupun spiritual. Oleh karena demikian maka sekalian penduduk Desa Gendis dan Sekitarnya, secara bulat mendaulat Baginda supaya menjadi Raja, yang kemudian dinobatkan dengan gelar “Ki Gusti Ngurah Panji Sakti”.
Untuk mencari tempat yang agak datar, maka Kota Gendis serta Kahyangan Pura Bale Agung-nya di pindahkan ke Utara Desa Panji. Pada tempat yang baru inilah Baginda mendirikan istana lengkap dengan Kahyangan Pura Bale Agungnya. Guna memenuhi kepentingan masyarakat desanya untuk menghantar persembahyangan di dalam pura maupun upacara di luar pura, serta untuk hiburan-hiburan lainnya, maka Baginda membuat seperangkat gamelan gong yang masing-masing di beri nama sebagai berikut :
  • · Dua buah gongnya di beri nama Bentar Kedaton
  • · Sebuah bendennya di beri nama Ki Gagak Ora
  • · Sebuah keniknya bernama Ki Tudung Musuh
  • · Teropong bernama Glagah Ketunon
  • · Gendangnya bernama Gelap Kesanga
  • · Keseluruhannya bernama “ Juruh Satukad”.
Karna perbawa dan keunggulan Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, maka Kyai Alit Mandala, lurah kawasan Bondalem tunduk kepada Baginda. Kemudian atas kebijaksanaanya maka Kyai Alit Mandala, diangkat kembali menjadi lurah yang memerintah di kawasan Bondalem, Buleleng Bagian Timur.
Pada sekitar tahun 1584 Masehi, untuk mencari tempat yang lebih strategis maka Kota Panji dipindahkan kesebelah Utara Desa Sangket. Pada tempat yang baru inilah Baginda selalu bersuka ria bersama rakyatnya sambil membangun dan kemudian tempat yang baru ini di beri nama “ SUKASADA” yang artinya slalu Besruka Ria.selanjutnya di ceritakan berkat keunggulan Ki Gusti Panji Sakti, maka Kyai Sasangka Adri, Lurah kawasan Tebu Salah (Buleleng Barat) tunduk kepada baginda. Lalu atas kebijaksanaan beliau maka Kyai Sasangka Adri diangkat kembali menjadi Lurah di kawasan Bali Utara Bagian Barat.
Untuk lebih memperkuat dalam memepertahankan daerahnya, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti segera membentuk pasukan yang di sebut “Truna Goak” di Desa Panji. Pasukan ini dibentuk dengan jalan memperpolitik seni permainan burung gagak, yang dalam Bahasa Bali disebut “Magoak-goakan”. Dari permainan ini akhirnya terbentuknya pasukan Truna Goak yang berjumlah 2000 orang, yang terdiri dari para pemuda perwira berbadan tegap, tangkas, serta memiliki moral yang tinggi di bawah pimpinan perang yang bernama Ki Gusti Tamblang Sampun dan di wakili oleh Ki Gusti Made Batan.
Ki Gusti Ngurah Panji Sakti beserta putra-putra Baginda dan perwira lainnya, memimpin pasukan Truna Goak yang semuanya siap bertempur berangkat menuju daerah Blambang. Dalam pertempuran ini Raja Blambangan gugur di medan perang dengan demikian kerajaan Blambangan dengan seluruh penduduknya tunduk pada Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Berita kemenangan ini segera di dengar oleh Raja Mataram Sri Dalem Solo dan kemudian beliau menghadiahkan seekor gajah dengan 3 orang pengembalanya kepada Ki Gusti Ngurah Panji Sakti. Menundukkan kerajaan Blambangan harus ditebus dengan kehilangan seorang putra Baginda bernama Ki Gusti Ngurah Panji Nyoman, hal mana mengakibatkan Baginda Raja selalu nampak bermuram durjan. Hanya berkat nasehat-nasehat Pandita Purohito, akhirnya kesedihan Baginda dapat terlupakan dan kemudian terkandung maksud untuk membangun istana yang baru di sebelah Utara Sukasada.
Pada sekitar tahun Candrasangkala “Raja Manon Buta Tunggal” atau Candrasangkala 6251 atau sama dengan tahun caka 1526 atau tahun 1604 Masehi, Ki Gusti Ngurah Panji Sakti memerintahkan rakyatnya membabat tanah untuk mendirikan sebuah istana di atas padang rumput alang-alang, yakni lading tempat pengembala ternak, dimana ditemukan orang-orang menanam Buleleng. Pada ladang Buleleng itu Baginda melihat beberapa buah pondok-pondok yang berjejer memanjang. Di sanalah beliau mendirikan istana yang baru, yang menurut perhitungan hari sangat baik pada waktu itu, jatuh pada tanggal “30 Maret 1604”.
Selanjutnya Istana Raja yang baru dibangun itu disebut “SINGARAJA” karena mengingat bahwa keperwiraan Raja Ki Gusti Ngurah Pnji Sakti tak ubahnya seperti Singa.
Demikianlah hari lahirnya Kota Singaraja pada tanggal 30 Maret 1604 yang bersumber pada sejarah Ki Gusti Ngurah Panji Sakti, sedangkan nama Buleleng adalah nama asli jagung gambal atau jagung gambah yang banyak ditanam oleh penduduk pada waktu itu.

Arti Kata Pengastulan

ARTI KATA DESA PENGASTULAN
       DESA PENGASTULAN
Dahulu di namakan Pengastawan
-          Pe + an                                         : Tempat
-          Astawa + anuswara ng           :Ngastawa
-          Astawa                                         : Bakti
-          Ngastawa                                    : Mebakti
-          Pengastawan                             :Tempat berbakti ( Genah ngastawa )
Dari kata Pengastawaan menjadi kata Pengastawan Kemudian supaya mempermudah mengucapkan menjadilah Pengastulan.
Pengastulan Terdiri dari kata :
-          Pe +Ngastalan + an
-          Pe + an = tempat
-          Ngastula dari akar kata astula = ngastawa
-          Pe + ngastulan + an = Pengastulan
-          Pengastulan di sandikan menjadi kata pengastulan
sooooooo......pengastulan to artine tempat ngastawa/tempat mebakti...
keto kone...yerrrrrr




Sabtu, 12 November 2011

Sejarah Tanah Slaka

SEJARAH DESA PENGASTULAN
Pengastulan adalah sebuah desa, terletak dipantai utara pualu dewata dan merupakan salah satu desa nelayan di daerah kabupaten Buleleng, kususnya di Kecamatan Seririt .
Berdasarkan prestasi yang ditulis dengan aksara ( hurup ) Bali diatas daun lontar yang di temukan sudah lapuk belum lama ini, Desa Pengastulan didirikan pada hari Rabu ( Budha ), Paing, wara landep, sasih kapat, tit tanggal paing 8, iska warsa tahun 1381. Sebelumnya, tersebut nama Desa Muntis yang merupakan cial bakal tiga desa, yaitu Desa Pengatsulan, Desa Bubunan dan Desa Sulanyah.
Desa Muntis terletak di sebelah timur jalan besar, di sekitar pelemahan pura Kendal. Kuburan desa tersebut berada disebelah baratnya dan disebelah selatan kuburan berdiri Pura Dalem sampai sekarang . Desa itu berkembang Pesat, Karena tanah disekitarnya sangat subur. Air itu mengairi sawah sangat melimpah disebabkan letaknya sebelah sungai saba yang tidak pernah kering. Dibarengi dengan penduduk desa yang cukup rajin, baik sebagai Nelayan, maka tidak mengherankan kalau keadaan penduduk sangat makmur. Orang-orang dari luar banyak berdatangan   baik sebagai pedagang dan bahkan ada juga yang terus menetap sebagai penduduk. Di antara pedagang yang datang, adapula orang-orang Cina. Pada saat itu Desa Muntis masi dikelilingi hutan belukar tadi, terdapat sebuah batu besar yang dikeramatkan oleh penduduk, karena bertuah. Mereka sering berkunjung lalu Bersemedi dan Memuja. Pedagang – pedagang Cina juga Sering datang untuk memohon berkah dan keselamatan kehadapan Ida Bhatara yang melinggih. Karena permohonan mereka sering terkabul, maka di atas Batu besar  tadi dibangun “ pelinggih “ yang besar , yang kemudian merupakan sebuah Pura, dinamakan Pura Gede. Pada waktu pebanguna pura tersebut, mengalir sumbangan-subangan, diantaranya sumbangan yang berasal dari pedagang-pedagang Cina. Hal ini terbukti banyak perabot-perabot bikinan Cina, piring,cangkir dll, terpasang menjadi hiasan tembok pelinggih Pura.  Sesuai dengan kepercayaan penduduk, dalam pelinggih,  tersebut bersemayam ida Bhatara Agung Ngurah Angker.  Disebelahnya dibuatka pula pelinggih, seperti pelinggih Ida Ayu Manik Galih serta pelingi-pelingih lainnya termasuk pura segara. Juga didirikan bale Agung di sekitar penataran pelinggih yang dimanfaatkan sebagai tempat paruman atau pertemuan oleh penduduk kerama subak Puluran dan Belumbang. Bale Agung tesebut sampai saat ini merupakan Bale Agung tunggal Desa Pengastulan, Bubuna dan sulanyah. Penduduk Desa Muntis makin berkembang. Makin lama makin Padat. Untuk menanggulani Kepadatan Penduduk, kerama desa dan kerama subak mengadakan parum dipim[pin Jro Bendesa. Dalam rapat disepakati pemecahan desa, dan semua keluarga dipindahkan kelokasi yang berdekatan. Alas an lainnya pemindahan penduduk itu ialah karena Desa Muntis  berada di hulu ( luwanan ) Pura Gede yang keramat itu, dan hal itu dianggap sering mendatangkan malapetaka. Pada hari dewasa yang baik, yaitu hari Rabu Icaka 1381 atau tahun 1459 seperti tersebut diatas, mulailah dilakukan perpindahan penduduk, diawali dengan perabasan hutan belukar. Mereka yang berprofesi sebagai nelayan, mengungsi kearah utara kemudian membuatan  perumahan disekitar Pura Gede. Karena pura tersebut merupakan tempat pemujaan atau pengastawaan, maka nama desa disebut Desa Pengastulan. Sedangkan mereka yang mengungsi kea rah selatan umumnya mereka memiliki tanah tegalan dan tanah-tanah persawaan. Mereka mendirikan desa dengan nama Bubunan. Kata bubunan berasal dari Bunbunan, karena tempat tersebut ditumbuhi banyak pepohon. Kadang kala penduduk menyebutnya bangsing kayu ( bun ), karenanya desa bubunan juga sering disebut desa bangsingkayu. Ada lagi penduduk Desa Muntis yang mengungsi ke sebelah timur desa bubunan, dan mereka umumnya memiliki tanah-tanah tegalan. Mereka bergotong royong mendirikan desa baru, namanya suralengke,lama-lama menjadi Desa Sulanyah.
Khusus mengenai Desa Pengastulan, sejak didirikannya penduduk sangat aktif bergotng royong membersihkan hutan belukar dan rawa-rawa.meraka membuat jalan besar yang mengelilingi desa dan menghubungkannya dengan pura dalem dan tapi laut. Untuk mempermudah hubungan satu keluarga dengan keluarga lainnya . dibikin pula gang-gang.kemudian desa tersebut dibagi menjadi empat banjar yang sekarang disebut banjasari, banjar Pala,banjar Purwa dan banjar Kauman. Di pojok timur semacam tetamanan, namanya taman sari ( Kendal). Disana terdapat mata air dan pancuran, dimanfaatkan sebagai tempat permandian untuk menyucukn diri. Di bagian barat daya juga di bangun taman bunga ( pembungaan ) oleh penduduk disebut pembangunan. Disana juga dibuatkan sebuah pelinggih, namanya pura pembungaan.
Untuk mengatur tata tertib pemerintah danadat agama, ditunjuk seorang bendesa adat ( Jro Bendesa ), seorang prebekel dan Jro mangku Gede, di bantu pemengku-pemangku lainnya. Jro bendesa Bertempat tinggal disudut desa barat daya, sedangkan Jro mangku Gede di Banjar sari sebelah utara Pura Gede.
Pada waktu pemerintahan kibarakpanji sakti di Buleleng sekitar tahun 1604, raja menugaskan seorang punggawa untuk menjaga punggawa untuk menjaga keamana daerah Buleleng Barat.
Hal itu dilakukan karena daerah tersebut sering menjadi sasaranbajak-bajak laut, hingga suasana daerah tidak tentram. Punggawa itu bersemayam   di desa pengastulan, rumahnya dibanjar tengah                 ( Banjar pala sekarang ). Konon yang menjadi punggawa ialah keturunan Sira Arya Tegeh Kori,yang semula mengungsi dari bali selatan ke bali utara. Sebagai sebagi tempat peribadatan keluarga tegeh kori, maka didirikan sebuah  pura dengan nama pura badung. Nama mungkin yang bersangkutan berasal dri daerah badung. Beberapa keturunan Arya Tegeh Kori berhasil menduduki jabatan punggawa, selanjutnya beralih ke desa bubunan, punggawa berkuasa atas distrik  Pengastulan yang daerahnya ditetapkan dari aliran sungai tukad men daung sebelah timur desa kalianget sampai daerah telik terima. Setelah Indonesia merdeka, distrik pengastulan dilikwidasi ( dilebur ) menjadi 3 kecamatan, yaitu kecamatan seirit. Kecamatan Busungbiu, Kecamatan Gerokgak.
Tiga desa, yaitu Pengastulan Bubunan dan Sulanyah Sampai saat ini Menjadi Bale Agung Tunggal, bersama bersujud di Pura Gede. Hal ini di ibaratkan sebagai pohon kayu. Desa Pengatsulan sebagai batangnya yang member kekuatan hidup kepada seluruh pohon. Desa Sulanyah Sebagi cabang dan daun, maksudnya untuk melindungi pokok kayu supaya tidak kepanasan. Sedangkan Desa BubunanSebagai sulur  ( Bangsing-Bun ) Sebagai pertahanan keamana phon seluruhnya ketiga desa tersebut masing-masing telah mempunyai    Kahyangan Tiga, sedangkan pura tetap menjadi tanggu jawab ketiga desa tadi. Suatu bukti nyata, bahwa ketiga desa tersebut pernah menjadi satu desa, ialah pemangku pura Desa Pengatsulan berasal dari desa bubunan. Demikian pula salah satu pelinggih yang terdapat di pura Gede Pengatsulan, Pemangkunya Berasal dari   Desa Bubunan, yang mendapat julukan Jero balian.
Pura Gede mempunyai dua macam yadnya, karena yang menyungsung terdiri atas dua kelompok masyarakat, yaitu yatu warga desa dan karma subak. Pada saat karya tama ( Musabha )yang diselenggarakan oleh karma subak Puluran dan Belumbang setiap panen kerta mata disawah, Waega masyarkat hanya sebagai pendukung ( Ngeruntunin ) . sedangkan pada waktu karya piodalan, dilakukan oleh tiga karma desa ( Pengatsulan , Sulanyah dan Bubunan ), Berlangsung pada Purnamaning kapat, didukung oleh semua karma subak ( Ngeruntunin ). Tiga hari sbelum upacara karya, Tiga warga desa secara kompak melakukan upacar mekiis kelaut. Esok harinya mekiis Subak ke empelan ( sumber Air ). Hari berikutnya dilakukan Pengeneng, munggah sekar, lalu piodalan Ida Dewa Ayu Maniking Amerta ( Galih ). Hari berikutnya dilakukan karya Ageng piodalan Ide Bhatara Dewa Gede Keesokan harinya berulah dilakukan karya di pure Segare. Berdasarkan babad, Setelah dilakukan karya piodalan, pada hari tilm berikutnya diadakan yadnya lagi, dinamakan upacara ngambe pasih, untuk penghormatan terhadap Bhatara Baruna ( Dewa Laut ). Pada saat itu, semua jenis   sampan, jukung dihiasi secara indah kemudin mengadakan perlombaan di laut sebelah utar desa. Hal itu sebagai perwujudanrasa terima kasih kepada Bhatara Baruna atas Karunia yang senantiasa dilimpahkan kepada para Nelayan.
Selain di pura Gede, di pura lainnya yamg berda di desa Pengastulan juga sering diadakan upacara piodalan. Seperti di pura dalem, Pura Desa dan Pura Pebean yang merupakn pura kahyangan  Tiga. Sedangkan di pura Badung, Piodalan juga dilakukan secar periodic oleh Warga Arya Tegeh Kori setempat.
Penduduk Desa Pengastulan berjumlah sekitar 4447  jiwa, sebagai besar beragama Hindu kecuali banjar kauman beragama islam. Meskipun terdapat perbedaan agama Namun kehidupan Bergama cukup mantap. Masing-masing pemeluk agama menghormati kepercayaan masing-masing. Persatuan dan kesatuan warga masyarakat terbina dengan baik. Pad waktu Revolusi Pisik merebut dan mempertahankan Kemerdekan indinesia tahun 1945, tampak persatuan dan kesatuan cukup tinggi dalam upaya mengusir penjajah. Dengan senjata persatuan mereka sangat tabah menghadapi Nica yang berpusat di kota seririt. Dibawah naungan pemuda –pemuda pejuang yang menghimpun diri dalam staf cabang “ Kiskunde” warga masyarakat desa Pengastulan Bubunan dan sulanyah   yang men jadi satu Bale Agung, senantiasa mnjalin hubungan guna menghadapi blockade musuh. Namun, karena masih adanya oknum-oknum yang diperalat oleh nica bebrapa orang pejuang tewas tertembak, sebagaian lagi dijebloskan dalam tahanan musuh. Mereka di usut, disiksa dan didera habis-habisan ada yang cacat pisik.
Karena perjuangannya itu, di Desa pengastulan, Bubunan dan Sulanyah banyak terdapat anggota Vetran pejuang kemrdekaan, yang telah mendapat pangkuan dari Legion Vetran Republic Indonesi (LVRI ). Seperti desa-desa lainnya desa pengastulan juga tidak ketinggalan dalam mewujudnya pembangunan Nasional. Demikian sekilas asal mula desa Pengastulan dan setitik kegiatan dalam perjuangan nasianal

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More